Menenggelamkan Taqwa, Lorong Kesadaran Jiwa ala jawa




Menenggelamkan Taqwa, Lorong Kesadaran Jiwa ala jawa Sengaja memunculkan istilah “menenggelamkan taqwa” dalam tulisan berikut.  Menenggelamkan taqwa dimaksudkan sebagai upaya muhasabah (perhitungan) diri,  mengakui segala kemunafikan, serta harapan sebagai manusia biasa agar memiliki takaran yang proporsional sebagai modal untuk diakui oleh Sang-Maha, sebagai muttaqien (orang-orang bertaqwa). Terlebih dalam persiapan (prepare) menyambut tamu agung yaitu bulan Ramadhan   شهر الرمضان)).
 Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
بني اﻻسﻻم على خمس : شهادة ٲن ﻻ اله اﻻ ٲلله و ٲن محمدا رسولالله، واقام ٲلصﻻة،وايتاء الزكاة، وحخ البيت، وصوم رمضان
“Agama Islam dibangun di atas lima hal; Bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah Ta’ala dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah Ta’ala, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadhan.” (Muttafaqun `alaih ). Sedangkan riwayat Muslim berbunyi; “ berpuasa Ramadhan dan berhaji ke Baitullah.”

                Konstruksi tentang Islam, yang disebut dalam hadits nabi saw diatas, menjadi satu pengetahuan bahwasannya puasa menjadi salah satu pilar dalam bangunan islam. Tentu, bukan permasalahan material bangunan yang menjadi titik fokus pembahasan pada tulisan ini,justru puasa dipahami tidak hanya sebagai atribut keagamaan, ritual mistik, bahkan semedi prestis  yang musti selalu dilaksanakan sebagai kemewahan-tahunan. Puasa adalah keseimbangan antara Cipta-Rasa-Karsa, antara Thinking (pikir) – Feeling (Perasaan) – Willing (Kehendak).

                Di antara nama-nama Allah Ta’ala adalah Al-Hakim. Dan dzat yang hakim itu disifati dengan sifat hikmah. Sedangkan hikmah itu adalah bersikap bijaksana dalam urusan dan menempatkan sesuatu sesuai tempatnya. Dan konsekuensi dari salah satu nama diantara nama-nama Allah Ta’ala ini adalah bahwa semua apa yang Dia ciptakan dan Dia syariatkan itu untuk hikmah yang agung, hal ini akan diketahui oleh orang yang mengetahuinya.

               Allah Ta’ala berfirman:
يا ايهاالذين أآمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب علي الذين من قبلكم لعلكم تتقون
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang- orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS.Al-Baqarah: 183)

Ada beberapa tahap yang dapat dijadikan acuan dalam penggunaan cipta-rasa-karsa, yaitu melalui tingkat kesadaran :
Kesadaran panca inderawi atau Aku (Ego consciouness).
Kesadaran hening: manunggal dalam cipta-rasa-karsa.
Kesadaran pribadi (Ingsun, Sukma Sejati): manunggal Aku-Pribadi (Self consciousness).
Kesadaran Ilahi: manunggal Aku – Pribbadi – Suksma Kawekas (Tuhan Sejati)
Pada tingkat mutakhir terjadi manunggal Subjek-Objek, sehingga diperoleh pengetahuan mutlak atau kawicaksanaan, kawruh sangkan paran dalam mencapai kesempurnaan. Ketiga kemampuan Cita-Rasa-Karsa ini dalam kehidupan sehari-hari diusahakan dapat bersatu untuk diwujudkan dalam kata dan karya, ucapan dan perbuatan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
من لم يدع قول الزوروالعمل به، و الجهل فليس للله حاجة في أن يدع طعامه و شرابه
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan palsu, serta kebodohan, maka Allah Ta’ala tidak butuh kepada puasanya meski ia meninggalkan makan dan minum.” (HR Bukhari)
Dalam filsafat jawa terdapat konsep Tata laku susila yang barangkali dapat dijadikan pendekatan memeAhami qalbu hadits diatas, adapun step by stepnya sebagai berikut :
Pertama-tama manusia harus memperhatikan kebutuhan jasmani-jasmaninya, bukan keinginan (willing). Dengan cara menghindari memanjakan badan jasmaninya, mengurangi makan dan tidur, mengendalikan hawa nafsu dan keinginan-keinginan yang selalu bergelora di dalam hatinya.
Kedua mengendalikan mulut, artinya mengawasi ucapan -ucapan yang dapat menyakiti hati orang lain seperti menghina, memfitnah
Ketiga, memupuk budi luhur dan mengembangkan sifat ksatria, berupa:
Anteng jatmika ing budi: tenang dalam pikir kir dan laku.
Luruh sastra:sopan dan hati-hati dalam bicara.
Wasis samubarang tanduk: mampu menyelesaikan tugas kewajiban.
Prawira ing batin: bijaksana dalam menilai.
Keempat menjalankan ibadat Syar’i Islam dengan tertib.
Kelima, mengambil teladan dari para leluhur yang telah membuktikan dapat mencapai pengetahuan agung berupa mengerti dan menghayati: Manunggaling Kawula Gusti.
Dengan menjalankan tata laku susila yang berbasis keseimbangan Cipta-Rasa-Karsa ini, semoga kita dapat meng-adakan hubungan dengan Tuhan secara erus-menerus, tidak bersifat momentum serta prestis simbolik dengan kata lain bagaimana sabda Tuhan terkhusus puasa hakiki selalu menjadi tuntunan dalam bahtera kehidupan.
“Iso’o rumongso, ojo rumongso iso. واللله أعلم ب الصواب
  • NB : - Format kepenulisan bersifat bebas, hanya sebatas point-point bahan diskusi.

Ditulis oleh : Labud Nahnu Najib
Sebagai bahan diskusi kajian mingguan  komisariat H.M Misbach; Sabtu,20-Mei-2017.

         -Kritik & Saran harap disampaikan secara langsung kepada penulis.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Post-Sekularisme

Menyembah Universalitas

KAPITALISASI PENDIDIKAN