Dialektika filsafat
Seperti biasa IMM komisariat H.M. Misbach kembali menggelar agenda rutinnya di malam minggu yaitu diskusi. Diskusi kali ini mengusung tema yang cukup berbeda dari biasanya. Jika biasanya IMM komisariat H.M. Misbach banyak membahas filsafat Barat dan Islam, tapi di malam minggu kali ini membahas tentang puasa dari perspektif filsafat Jawa. Dan tema yang coba diangkat adalah “Kesatuan cipta-rasa-karsa, prepare puasa tanpa taqwa”. Sebuah tema yang sangat menarik megingat falsafah hidup orang Jawa sudah banyak yang ditinggalkan. Sebagai pemateri kali ini adalah IMMawan Najib D’Kasper. Diskusi kali ini terasa sangat berbeda karena dihadiri juga oleh teman-teman dari Komisariat lain cabang Sukoharjo.
Acara dibuka sekitar pukul 20.00 WIB. Dimulai dari IMMawan Zulkarnain selaku Ketua Umum yang membuka acara dan sedikit memberi pengantar menuju ke tema. Dilanjutkan IMMawan Najib sebagai pemateri untuk mencoba membahas tentang puasa dari perspektif filsafat jawa. Banyak yang bertanya-tanya kenapa tema yang diusung tentang prepare puasa tanpa taqwa. Apa yang hendak dimaksudkan dari tema tersebut. Ternyata pemateri sengaja memunculkan istilah “menenggelamkan taqwa” dimaksudkan sebagai upaya muhasabah (perhitungan) diri, mengakui segala kemunafikan, serta harapan sebagai manusia biasa agar memiliki takaran yang proporsional sebagai modal untuk diakui oleh Sang-Maha, sebagai muttaqien (orang-orang bertaqwa).
Seperti dalam makalah yang sudah IMMawan Najib tulis sebelum diskusi, puasa menjadi pilar dalam bangunan Islam. Tentu, bukan material bangunan yang menjadi titik fokus pembahasan, justru puasa dipahami tidak hanya sebagai atribut keagamaan, ritual mistik, bahkan semedi prestis yang musti selalu dilaksanakan sebagai kemewahan tahunan. Puasa adalah keseimbangan antara Cipta-Rasa-Karsa, antara thinking (pikir) – Feeling (perasaan) – dan Willing (kehendak). Tentu, selaras dengan falsafah hidup orang Jawa.
Setelah IMMawan Najib selesai memaparkan materi, muncul beberapa pertanyaan dari peserta diskusi. Diskusi pun penuh dengan pertukaran pengetahuan yang tiada henti. Diskusi semakin menarik setelah IMMawan Mario mencoba membenturkan Filsafat Jawa dengan Filsafat Barat.

Komentar
Posting Komentar