Menyembah Universalitas
Oleh: Ahmad Zulkarnain
Sejarah umat manusia, dari waktu ke waktu selalu mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Bahkan peradaban masa lalu ikut serta dalam membentuk lahirnya peradaban di era sekarang ini. Seharusnya kita sudah bisa bercermin kepada peradaban masa lalu, agar peradaban yang terbentuk sekarang ini, menjadi peradaban yang lebih baik, dengan tidak adanya penindasan, pemiskinan, pembodohan, dan monopoli kebenaran. Namun realitas yang terjadi pada abad sekarang ini ialah, peradaban yang terjebak dengan peradaban masa lalu dengan segala romantismenya, terutama di abad ke-17 dan 18. Perlu diketahui bahwa sejarah peradaban masa lalu, terutama di dunia barat, bagaimana episteme yang berkembang di masyarakat pada saat itu mencoba dipaksakan untuk berlaku bagi semua umat manusia (universal).
Pemaksaan, mengabsolutkan, dan meng-universalkan episteme yang berlaku pada saat itu di dunia barat di era peradaban masa lalu yang malah justru membuat kecacatan peradaban itu sendiri. Yang seharusnya kita sudah bisa bercermin dari kecacatan peradaban masa lalu tersebut, tapi sayang sekali kita selalu lupa untuk bercermin dan menganggap kitalah yang paling benar. Penulis akan memberikan segelintir contoh di peradaban masa lalu terkait bagaimana, sebuah episteme mencoba untuk mengabsolutkan dan menguniversalkan segala sesuatu. Episteme yang berkembang di peradaban masa lalu seperti, Cogito ergosum milik rene Descartes, Causa sui milik Spinoza, kritisisme milik imanuel kant, dan positivisme milik august comte. Dan masih banyak lagi. Semua episteme yang telah penulis paparkan diatas, mencoba untuk mengabsolutkan dan menguniversalkan wacana-wacana yang telah mereka buat. Dan hasilnya adalah penindasan, betapa rasisnya episteme yang berlaku di peradaban masa lalu, dan selalu memakan korban.
Semua orang dipaksa untuk mengikuti, episteme yang sedang berlaku pada saat itu, dan orang yang tidak mau mengikuti, melaksanakan, atau bahkan ketika pola pikir seorang manusia berbeda dengan episteme yang sedang berkuasa pada saat itu, maka orang itu akan di anggap gila, abnormalitas, brutes, tidak bermoral dan bahkan di asingkan oleh peradaban. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang difabel, yang memiliki kecacatan fisik atau kecacatan otak yang secara psikis dan psikologis tidak mampu untuk mengikuti episteme yang sedang berkuasa pada saat itu. Sama saja mereka orang-orang yang difabel, akan tetap di asingkan dan di buang karena di anggap manusia setengah hewan. Inilah salah satu kecacatan berfikir peradaban masa lalu yang terlalu berambisius dan ingin mendominasi.
Lalu bagaimana ketika kita ingin mencoba untuk membandingkan peradaban masa lalu, dengan peradaban kita sekarang ini abad ke-21, khususnya di belahan bumi Indonesia, apakah akan terjebak dengan romantisme peradaban masa lalu?.
Tidak bias dipungkiri, bahwa Indonesia adalah Negara yang plural bermacam-macam suku, budaya, dan agama. Episteme yang berkembang di belahan bumi Indonesia dewasa ini, adalah AGAMA, bagaimana agama ingin mencoba untuk memecahkan segala permasalahan kemanusiaan yang terjadi di lingkungan sosial-masyarakat. Karena memang Indonesia sejauh analisis yang penulis lakukan, Negara ini adalah Negara yang overdosis dengan agama.
Tidak ada Negara di dunia ini, yang berbicara agama melebihi Indonesia, sepanjang waktu, siang dan malam. Di tempat ibadah, di TV dan radio, di gedung-gedung, di Koran dan majalah. Di medsos bahkan di jalanan. Anehnya dinegeri ini juga korupsi merajalela, fitnah dan ujaran kebencian menjadi hal yang biasa, agama telah kehilangan rohnya yakni cinta kasih dan moralitas, berbicara agama masih sebatas ritual bukan substansi, masih sebatas syariat bukan hakikat, sehingga nyaris tidak ada kaitannya antara rajin ibadah dan prilaku. Mengapa penulis memaparkan argument semacam itu, karena memang seperti itu realitas umat beragama di negeri ini.
Agama sampai pada hari ini, yang paling banyak di bicarakan orang dan yang paling laris, dan menjadi sebuah episteme, yang ingin mencoba meng-absolutkan dan meng-universalkan ajaran-ajaran mereka disetiap lini kehidupan manusia, sosial dan budaya. Yang tidak mengikuti atura atau ajaran agama, atau bahkan yang tidak beragama sekalipun akan di anggap tidak bermoral, orang yang salah, sesat, menyimpang. Sama halnya apa yang di katakana oleh peradaban masa lalu. Bagaimana bisa agama menjadi barometer dan tolak ukur salah benar, moralitas, penyimpangan, kesesatan, dan yang lain sebagainya. Penulis kira setiap daerah, wilayah, dan Negara memiliki tradisi, kebudayaan, dan kesepakatan masing-masing terkait moralitas, menyimpang, dan benar salah dan hal semacam itu tidak mungkin bisa untuk di universalkan atau di absolutkan, apalagi untuk menjeneralisir segala sesuatu untuk berkiblat kedalam satu peradaban.
Agama ketika di kaitkan dengan permasalahan kemanusiaan, atau dengan teori-teori seperti, sosial, antropologi, dan bahkan sains untuk menjawab semua permasalahan kemanusiaan seakan-akan agama mampu untuk menjawab itu semua, lalu bagaimana ketika teori itu dipatahkan atau salah apakah agama juga akan ikut salah. Suatu kesalahan besar ketika membandingkan sesuatu hal yang tentatif (sosial, sains, antropologi), dengan sesuatu yang mutlak benar menurut anggapan orang beragama (teks suci).
Memaksa agama untuk memasuki segala lini kehidupan manusia, dan mengabsolutkandan menguniversalkan aturan atau ajaran itu agar berlaku untuk semua umat manusia, seakan-akan agama mampu melakukan itu semua adalah suatu hal yang perlu untuk di skeptiskan, karena justru agama itu akan menjadi rasis dan menindas manusia itu sendiri. Sampai hari ini, umat beragama tidak lagi menyembah tuhan, tuhan sudah mati, seperti apa yang dikatakan nitze, dan yang mereka sembah sekarang ini adalah universalitas memaksa orang agar mengikuti ideologi dan dogma agama yang sakral yang di bawa oleh umat beragma. Dan yg diluar dari mereka pasti di anggap salah, sesat dan tak bermoral, itulah realitas yang terjadi dikalangan umat beragama dewasa ini. Semua hal itu sama saja dengan kita terjebak dengan peradaban masa lalu, yang ingin meng-universalkan segala sesuatu dan harus diikuti oleh semua manusia.

Komentar
Posting Komentar