studi Ironis terhadap Idealis
_Oleh_: Labud Nahnu Najib Sedari lahir, pertama yang aku kenal adalah ibuku, sebab aroma rahimnya masih tergambar jelas melalui lorong kalbuku, kemudian ayah serta apa yang ada di sekelilingku. Entah kala itu Tuhan apakah hadir menyaksikan sajak kelahiranku. Karena di saat kecil waktu dan jarak sangat mustahil dalam pengetahuanku. Saat ini aku adalah remaja, mengingat masa kecilku menjadikan ingatanku tidak mempercayai akan ceritaku, termasuk cerita ketika aku mengenal ibu dan ayahku. Namun bukankah itu yang dinamakan “keyakinan” ?. Aku menemukan diriku saat ini ternyata tidak sekedar jasmani, karena pernah aku bandingkan dengan kambing. Semakin aku membandingkan, cipta-rasa-karsaku menemukan bahwa pribadiku merupakan suatu kehidupan psikologis rohaniah. Remaja seperti diriku ternyata mampu untuk kritis. Hal itu aku buktikan terhadap diriku sendiri serta apa yang terjangkau oleh inderaku. Aku mulai bertanya, di manakah aku? Aku terpisah dari pribadi-pribadi yang ada, b...