studi Ironis terhadap Idealis
_Oleh_: Labud Nahnu Najib
Sedari lahir, pertama yang aku kenal adalah ibuku, sebab aroma rahimnya masih tergambar jelas melalui lorong kalbuku, kemudian ayah serta apa yang ada di sekelilingku. Entah kala itu Tuhan apakah hadir menyaksikan sajak kelahiranku. Karena di saat kecil waktu dan jarak sangat mustahil dalam pengetahuanku.
Saat ini aku adalah remaja, mengingat masa kecilku menjadikan ingatanku tidak mempercayai akan ceritaku, termasuk cerita ketika aku mengenal ibu dan ayahku. Namun bukankah itu yang dinamakan “keyakinan” ?.
Aku menemukan diriku saat ini ternyata tidak sekedar jasmani, karena pernah aku bandingkan dengan kambing. Semakin aku membandingkan, cipta-rasa-karsaku menemukan bahwa pribadiku merupakan suatu kehidupan psikologis rohaniah.
Remaja seperti diriku ternyata mampu untuk kritis. Hal itu aku buktikan terhadap diriku sendiri serta apa yang terjangkau oleh inderaku. Aku mulai bertanya, di manakah aku? Aku terpisah dari pribadi-pribadi yang ada, bahkan aku terpisah dari alam dan sekelilingnya. Rasionalitas, intuisi, hasrat, harapan dan kehidupan jiwa rohani saling bertautan. Dan itulah aku.
Individuasi melanda diriku. Semakin jelas mana diriku dan yang bukan diriku. Antara baikku dan bukan baikku. Antara aku dan sekelilingku. Semua terpisah antara aku.
Saat ini aku sedang sendiri. Akulah remaja. Aku sendiri, aku sepi, dan aku tak ingin berbagi. Ini yang aku cari selama ini. Itulah aku dalam “pribadi”.
Dalam kesendirianku, sempat terfikir bahwa aku memerlukan seseorang yang sama sepertiku. Remaja lain yang mau dan mampu menjadi kawan setia, atau sosok yang siap mengakomodasi segala keluh kesah jiwaku. Namun, semua hanyalah dusta, kesendirian tetaplah kesendirian. Jangan dimaknai lain.
Masih dalam pencarian akan diriku. Remaja. Sekarang aku mulai sedikit tersenyum ketika aku kenal Kiyai, Ustadz, Juru ceramah dan lain sebagainya. Lagi-lagi itu tak bertahan lama. Kesendirian barangkali tetap kesendirian. Bahkan, bertambah dengan kekecewaan.
Kesendirianku serta kekecewaan yang membersamainya kini menjadi langkah-langkah cepat. Kususuri belantara mencari dunia ideal. Kuselami lautan untuk aku temukan dunia filosofis. Dan kukumpulkan awan demi satu hal yang aku miliki yaitu cita-cita. Oh.. aku adalah remaja. Pandanganku, ideku, serta filsafat hidupku telah memperkosa imanku.
Kini kesendirian bersama dengan penderitaan. Kebimbangan melanda, menyulut konflik batin menyayat. Remaja ternyata adalah derita. Remaja ternyata adalah gangguan jiwa. Risauku saat ini adalah satu. Remaja sudah berlalu.
_Bersambung...._

Komentar
Posting Komentar