Islamisasi Ilmu Pengetahuan Anugrah atau Bencana
Oleh: ahmad zulkarnain
Islamisasi ilmu pengetahuan adalah suatu upaya pembebasan
pengetahuan dari asumsi-asumsi atau penafsiran-penafsiran barat terhadap
realita, dan kemudian menggantikannya dengan pandangan dunia islam. Tetatapi
sejauh mana gagasan ini dapat dijalankan dan bener-benar memberikan solusi
terhadap krisis masyarakat modern, mungkin sejarahlah yang dapat
membuktikannya. Mengislamkan atau melakukan pengkudusan/penyucian terhadap ilmu
pengetahuan produk non-muslim (barat) yang selama ini dikembangkan dan
dijadikan acuan dalam wacana pengembangan sistem pendidikan islam, agar
diperoleh ilmu pengetahuan yang bercorak “khas Islami.”
Namun kendati sudah berjalan lebih dari satu dasawarsa hasil konkrit
dari upaya ini belum dapat dirasakan, bahkan banyak terjadi kontra dan
tantangan akan wacana ini, (Parvez Hoodbhoy: 2006) para pelaku sains islam telah
mengarahkan penelitian mereka kepada masalah-masalah yang terletak diluar
wilayah sains yang umum misalnya, masalah-masalah yang tidak dapat dibuktikan
seperti kecepatan surga, temperatur neraka, komposisi kimia jin, rumusan untuk
menghitung derajat kemunafikan, penjelasan tentang isra’mi’raj berdasar teori
relativitas dan sejumlah contoh-contoh lain yang digambarkan dalam artikel
mereka menyebutnya sains islam. Masih menjadi tanda tanya, apakah penemuan
tersebut sesuai dengan tauhid islam. Tetepi bila menurut kriteria teori ilmiah
jelas sekali tidak memenuhi syarat.
Ilmuwan indonesia, kuntowijiyo mengatakan islamisasi ilmu itu tidak
ubahnya seperti hendak memasukkan sesuatu dari luar atau menolak sama sekali
ilmu yang ada. Ia melihat keduanya (ilmu islam dan bukan islam) itu tidak
realistik dan akan membuat jiwa kita terbelah, antara identitas dan realitas.
Maksud dari tulisan ini bukan untuk mengecilkan gagasan mengenai islamisasi
ilmu pengetahuan yang telah digagas oleh tokoh islam seperti, syed m.naquib
al-attas, al-faruqi dan syed hossein nasr. Namun menurut penulis gagasan ini
menerik untuk dikritisi ulang dan dikembangkan wawasannya di saat kita memasuki
era globalisasi dan perubahan sosial yang begitu cepat.
Dengan demikian, menjadi jelas bahwa proyek islamisasi ilmu pengetahuan oleh kalangan ilmuwan tertentu, secara tidak langsung telah menempatkan ilmu pengetahuan sebagai ideologi yang selalu tertutup untuk dilakukan pengkritisan ulang. Padahal ilmu pengetahuan adalah ruang yang terbuka yang senantiasa harus diuji secara kritis, terutama ketika dihadapkan dengan realitas modern yang selalu cenderung untuk mencari jawaban dari berbagai persoalan kontemporer yang berkembang di tengah masyarakat yang global. Dari beberapa kritik yang telah diungkapkan diatas kiranya dapat disimpulkan bahwa program islamisasi ilmu pengetahuan adalah gagasan yang tentu absurd dan sulit untuk direalisasikan, karenanya benar apa yang dikatakan oleh Nasr Hamid dan penulis juga sependapat bahwa seruan yang tampak seperti anugrah itu , justru akan berubah menjadi petaka.
Dengan demikian, menjadi jelas bahwa proyek islamisasi ilmu pengetahuan oleh kalangan ilmuwan tertentu, secara tidak langsung telah menempatkan ilmu pengetahuan sebagai ideologi yang selalu tertutup untuk dilakukan pengkritisan ulang. Padahal ilmu pengetahuan adalah ruang yang terbuka yang senantiasa harus diuji secara kritis, terutama ketika dihadapkan dengan realitas modern yang selalu cenderung untuk mencari jawaban dari berbagai persoalan kontemporer yang berkembang di tengah masyarakat yang global. Dari beberapa kritik yang telah diungkapkan diatas kiranya dapat disimpulkan bahwa program islamisasi ilmu pengetahuan adalah gagasan yang tentu absurd dan sulit untuk direalisasikan, karenanya benar apa yang dikatakan oleh Nasr Hamid dan penulis juga sependapat bahwa seruan yang tampak seperti anugrah itu , justru akan berubah menjadi petaka.

imm H.M Misbach
BalasHapus