Renungan Demonstran di Bulan Ramadhan

Oleh : Labud Nahnu Najib
Pegiat Literasi di Rumah Baca Srawung (RBS) Solo dan Mahasiswa Mahad Abu Bakar UMS.
Apresisi setinggi-tingginya saya haturkan kepada kawan saya, kawan sesama pegiat literasi di Rumah Baca Srawung (RBS) Solo, saudara Syahrul Ramadhan dari kalangan mahasiswa sekaligus petani, yang sempat terbit karya pemikirannya pada rubik ini, edisi minggu lalu dengan judul yang cukup provokatif yaitu “Meninggalkan Demonstrasi”. Mengapa saya katakan bahwa judul tersebut provikatif? Minimal karena saya pribadi juga ter-provokasi, tergerak untuk membuat tulisan sederhana ini, menyambung dialektika “mimbar mahasiswa” yang begitu menarik.
Saya mencatat ada beberapa kritik tertulis oleh kawan saya yang ditujukan kepada pegiat “demonstrasi” (aksi mahasiswa masa kini) pada edisi minggu lalu. Meski menohok, sebaiknya tidak dianggap sebagai umpatan negative disertai reaksi berlebihan. Saya pribadi menganggap ini sebagai auto-kritik konstruktif untuk kita semua selaku mahasiswa yang meyakini bahwa “berjuta kali turun aksi, bagiku satu langkah pasti”.
Sestidaknya dengan cara pandang di atas, kita mampu membaca salah satu ungkapan bahwa “Demonstrasi itu tidak lebih baik daripada upacara bendera yang dilakukan setiap hari Senin di Sekolah Dasar” melalui sudut pandang lain sudut pandang positiv dengan reaksi yang baik dan benar. Terlepas dari perdebatan apakah “meninggalkan demonstrasi” merupakan anggapan atau kenyataan, karena memang penulisnya tidak menyebut identitas demonstran yang dimaksud secara jelas pada tulisannya.
Langkah Pasti Demonstrasi
Pada kesempatan ini, dalam rangka menerima kritik sebagai auto-kritik. Ada beberapa hal yang musti diperhatikan oleh pelaku demonstrasi terutama kita sebagai mahasiswa yaitu;
Pertama, sebab, upaya , atau tujuan sosial dipercaya oleh pelaku dapat menjawab persoalan. Idealnya sebab, upaya, atau tujuan dari gerakan aksi massa itu digelar berdasarkan analisis sosial yang menyeluruh dan mendalam terhadap kondisi yang ada. Jika sudah dilakukan analisi sosial maka hasil analisis ini akan memberikan gambaran tentang prioritasisasi perubahan yang harus dilakukan karena kom-pleksnya persoalan bangsa ini. Kedua, agen perubahan sebagai pelaku yang mengemban misi melakukan aksi sosial dalah mereka yang telah mengalami pencerahan dan mampu menangkap realitas yang berkembang di masyarakat sehingga dapat mengambil langkah yang tepat bagi perubahan.
Sebagian pakar sosial meyakini bahwa agen perubahan di negara ini bertumpu pada kelas menengah independen yang secara pendidikan dan mobilitas sosial memungkinkan. Mereka terdiri dari mahasiswa, kelompok intelektual, aktivis NGO, tokoh agama, kelompok profesional, dan lain sebagainya yang mempunyai keprihatinan sama terhadap kondisi bangsa.
Ketiga, sasaran perubahan baik individu, kelompok, atau lembaga yang menjadi sasaran perubahan. Sasaran dibutuhkan untuk menentukan pilihan yang paling mendesak sehingga ada proses sistematis ynag direncanakan secara rapi. Hal ini sesuai dengan filsafat Sun Tzu yang mengatakan “Kenalilah dirimu dan kenalilah musuhmu, dan kau dapat bertempur dalam seratus pertempuran tanpa terkalahkan”.
Keempat, saluran atau media untuk menyampaikan pengaruh dan respon dari setiap pelaku perubahan ke sasaran perubahan. Media ini merupakan bentuk aksi propaganda melalui pelbagai instrument saluran yang ada di masyarakat. Media dapat digambarkan sebagai jembatan yang menghubhngkan antara kondisi yang ingin diubah dengan cita ideal yang diinginkan. Tanpa media, maka dapat dipastikan proses transformasi gagasan dan ide perubahan mengalami hambatan yang justru kontra-produktif bagi gerakan kota.
Kelima, strategi perubahan yang menyangkut metode dan teknik utama untuk mempengaruhi yang diterapkan oleh pelaku perubahan akan menimbulkan dampak pada sasaran perubahan. Hal ini merupakan strategi atau siasat yang diharapkan mampu menjadi jawaban atas pertanyaan bagaimana meretas jalan bagi perubahan.
Prinsip Seorang Demonstran
Seperrti Luther King, mimpi perubahan kini menjadi mimpi semua orang, terutama mereka yang mendambakan kehidupan yang lebih baik. Dalam konteks ini, memperjuangkan terwujudnya kondisi masyarakat ideal yang diidamkan banyak orang memang membutuhkan kerja keras dan proses yang sangat panjang, baik di dataran wacana maupun dimensi praksis.
Pada bagian akhir tulisan ini ingin saya sampaikan bahwasannya apa yang saya narasikan secara konseptual di atas hanyalah sebagai sebuah tawaran pendekatan saja dalam mewujudkan masyarakat ideal yang diimpikan oleh banyak orang. Sedangkan yang substantif dan lebih penting diwujudkan oleh segenap anak manusia yang peduli, dibandingkan sekadar menjadikannya sebagai wacana yang tidak membumi, dan tidak mampu menjawab kebutuhan utama dari masyarakat yang tertindas.
Prinsip kita saat ini adalah “Bertindak lokal, berfikir global”. Tetap waspada bukan berarti beku karena terlalu tegang. Bagaimana hal besar bisa terwujud sedangkan hal kecil tidak mampu kita jalankan. Teringat ungkapan bijak jawa “ Ana wayahe mikir, ana wayahe nglakoni, ana wayahe ngenengke, ana wayahe ngurusi” (Ada saatnya berfikir, ada saatnya berbuat, ada saatnya mendiamkan, ada saatnya mengurusi/menggerakkan). Demonstrasi tak perlu setiap hari, sekali demonstrasi jadikan demonstrasi yang berarti.
Komentar
Posting Komentar