Generasi INDONESIA Membaca




Oleh : Labud Nahnu Najib

Sangat disayangkkan hingga saat ini kita bahkan lupa bahwasannya ada salah satu  media  sempat menampilkan data BPS, yang menyatakan bahwa jumlah rata-rata waktu yang digunakan anak Indonesia dalam menonton televisi adalah 300 menit per hari. Jumlah ini jauh lebih besar dibanding anak-anak di Australia yang hanya 150 menit per hari dan di Amerika yang hanya 100 menit per hari, apalagi di Kanada yang hanya 60 menit per hari (Republika, 12 September 2015).

Sebagai mahasiswa yang merupakan salah satu bagian dari  Indonesia, nampaknya tidak mengusik kenyamanan kita ketika UNESCO mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, pada setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca. Masyarakat di Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun. Kondisi ini lebih rendah dibandingkan penduduk di negara-negara anggota ASEAN, selain Indonesia, yang membaca dua sampai tiga buku dalam setahun. Angka tersebut kian timpang saat disandingkan dengan warga Amerika Serikat yang terbiasa membaca 10-20 buku per tahun. Saat bersamaan, warga Jepang membaca 10 15 buku setahun (Republika, 12 September 2015).

Pantaskah kita untuk resah ? Sepertinya memilih untuk tidak tahu akan realitas semacam ini lebih membuat kita awet muda, tidak memperkerut jidad sehingga terhindar dari penuaan dini. Hal ini yang mungkin dirasakan oleh sebagian orang, dan sebagian lainnya berada pada kondisi sebaliknya. Entah mana yang mayoritas ataupun minoritas yang pasti saat ini hal itu yang terjadi.
Menilik lagi terkait fakta dari data yang ada bahwasannya tingkat literasi kita juga hanya berada pada rangking 64 dari 65 negara yang disurvei. Satu fakta lagi yang miris tingkat membaca siswa Indoneisa hanya menempat urutan 57 dari 65 negara (Republika, 12 September 2015).

Belajar dari sebuah pernyataan bahwasannya “Budaya suatu bangsa biasanya berjalan seiring dengan budaya literasi,”. Barangkali perlu kita resapi betul pernyataan diatas dengan sangat-sangat mendalam dan mendasar. Bangsa kita bangsa yang besar akan tetapi mengapa kita selalu dibelakang? Kebesaran kita ternyata terlihat hanya dari aspek kuantitas, sedangkan kualitas? Pertanyan ini akan selalu ada, selama dibutuhkan sebagai pengungkapan kebenaran bangsa kita ini. Sebetulnya jika kita cermati, faktor kebudayaan dan peradaban dipengaruhi oleh membaca yang dihasilkan dari temuan-temuan kaum cendekia yang kemudian diabadikan dalam tulisan dan menjadikan warisan literasi informasi yang sangat berguna bagi proses kehidupan sosial yang dinamis. 

Namun ironisnya jumlah terbitan buku di Indonesia tergolong rendah, tidak sampai 18.000 judul buku per tahun. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan Jepang yang mencapai 40.000 judul buku per tahun. (Sumber: Majalah Oase Edisi April 2014)
Lagi-lagi kita sebagai mahasiswa yang juga warga Indonesia, tentu hal ini semestinya sudah  cukup untuk mengajak kita menghujat diri. Ketenangan pemerintah (dan masyarakat Indonesia?) dalam menghadapi fenomena ini, menunjukkan budaya literasi masih sangat dikesampinkan karena memang permasalahan ekonomi dan politik menjadi pengalihan fokus yang cukup menyibukkan.
Sekali lagi, bahwasannya budaya literasi sangat berperan dalam menciptakan masyarakat yang cerdas, yang pada gilirannya nanti akan membentuk bangsa yang berkualitas. Muncul pertanyaan baru, apakah cukup dengan mengeluh dan hanya mengeluh tentang keadaan kita, maka keadaan akan berubah sesuai keinginan?. Tentu kita harus sadar bahwa proses selalu mendahului hasil. Saat ini budaya harus kita bangun, kita upayakan dengan tindakan, tindakan pembangunan untuk pencerdasan.
Menciptakan generasi literat membutuhkan proses panjang dan sarana yang kondusif. Proses ini dimulai dari sekup terkecil dari lingkungan keluarga, lalu didukung atau dikembangkan di sekolah, lingkungan pergaulan, dan lingkungan pekerjaan. Menurut Kimbey (1975,662) kebiasaan adalah perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang tanpa adanya unsur paksaan. Kebiasaan bukanlah sesuatu yang alamiah dalam diri manusia tetapi merupakan hasil proses belajar dan pengaruh pengalaman dan keadaan lingkungan sekitar. Karena itu kebiasaan dapat dibina dan ditumbuh kembangkan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Post-Sekularisme

Menyembah Universalitas

KAPITALISASI PENDIDIKAN